22 September 2026

Tetap Teguh Dalam Kebenaran & Menjauhi Perpecahan

Selasa, 22 September 2026
Bacaan: Roma 16:17–20
Tema: “Tetap Teguh dalam Kebenaran dan Menjauhi Perpecahan”

Nas Firman Tuhan
Roma 16:17–18 — “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima. Hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dengan kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.”

Renungan
Dalam perjalanan iman, tidak semua suara yang terdengar baik membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Paulus mengingatkan jemaat di Roma untuk waspada terhadap orang-orang yang menimbulkan perpecahan dan menyesatkan orang lain dari kebenaran Firman Tuhan.Perpecahan sering kali dimulai dari hal-hal kecil: perkataan yang tidak benar, gosip, kepentingan pribadi, iri hati, atau sikap yang merasa diri paling benar. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk memiliki hikmat dalam mendengar, berbicara, dan mengambil sikap.Paulus juga memberikan penguatan: “Allah, sumber damai sejahtera, akan segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu” (Roma 16:20). Ini mengingatkan kita bahwa kemenangan bukan berasal dari kekuatan manusia, tetapi dari pertolongan Allah.Hari ini, marilah kita menjaga hati agar tidak mudah terpengaruh oleh perkataan yang memecah belah. Sebaliknya, hendaklah setiap perkataan kita membawa damai, membangun, dan memperkuat iman orang lain.

Aplikasi
Waspada terhadap perkataan dan pengajaran yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Jangan menjadi sumber perpecahan, baik dalam keluarga, pekerjaan maupun persekutuan gereja.Belajar membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan dengan berpegang pada Firman Tuhan.Menjaga perkataan, agar yang keluar dari mulut kita menjadi berkat dan bukan luka bagi orang lain.Percaya kepada pertolongan Tuhan ketika menghadapi konflik, godaan, dan berbagai tantangan kehidupan.Jadilah pribadi yang membawa damai dan mempersatukan, bukan memperbesar perbedaan.
 
Refleksi
Apakah perkataan dan sikap saya selama ini lebih banyak membawa damai atau justru menimbulkan perpecahan?
Apakah saya mudah percaya pada perkataan orang lain tanpa terlebih dahulu mengujinya dengan Firman Tuhan?
Ketika menghadapi perbedaan, apakah saya memilih membangun jembatan atau memperlebar jarak?
Adakah perkataan atau sikap yang perlu saya ubah hari ini agar hidup saya semakin berkenan kepada Tuhan?
 
Renungkan:
“Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi pembawa damai, kebenaran, dan kasih di tengah kehidupan.”