Sejarah Gereja Methodist Indonesia Wilayah 1
SEJARAH GEREJA METHODIST INDONESIA
Gereja Methodist ialah Gereja Kristen tempat Firman dilaksanakan. Gereja Methodist adalah Gereja Protestan, Tuhan yang suci diajarkan dan Sakramen-sakramen walaupun tidak secara langsung berasal dari gerakan reformasi melainkan berasal dari Gereja Anglikan. Pendirinya adalah Pendeta John Wesley, seorang Pendeta Gereja Anglikan. Ayahnya Samuel Wesley adalah seorang Pendeta dari Gereja Inggris Ibunya bernama Susanna Wesley yang setia dalam kehidupan kekristenan. Dialah yang mempengaruhi hidup kerohanian John Wesley.John Wesley berasal dari keluarga yang beriman dan memperoleh pendidikan pada Universitas Oxford di Inggris. Sama seperti Rasul Paulus pada masa mudanya mencari kepuasan agama, demikian juga John Wesley mencari kepuasan agama dengan sungguh-sungguh dan seksama, namun demikian ia tidak memperolehnya.
Pertobatan John Wesley terjadi sewaktu perkumpulan diadakan di Jalan Aldersgate London pada tanggal 24 Mei 1738. Pada saat itulah dia mengerti seperti Paulus, bahwa rahmat Allah tidak diperoleh baik dari melaksanakan peraturan dan hukum-hukum agama, maupun dengan penyempurnaan diri sendiri, tetapi hanya dengan kepercayaan akan Kristus. Dengan demikianlah orang dapat memperoleh hidup aman dan damai. Kehidupan baru yang diperolehnya itu disampaikan kepada teman-temannya termasuk adiknya Charles Wesley dan kemudian disebarluaskan ke seluruh kepulauan Inggris.
Dalam penginjilannya terdapat dua unsur yang senantiasa terdapat dalam kehidupan Methodist sampai sekarang ini.
Pertama: Mengabarkan Injil kepada orang-orang miskin yang tidak dilayani oleh Gereja dan rohaniawan pada masa itu.
Kedua: Memelihara mereka yang sudah menjadi orang Kristen, mengumpulkan orang dalam kelompok, kelas dan golongan-golongan serta menetapkan pemimpin-pemimpinnya. Mencari orang yang terpanggil mengabarkan Injil kepada umum.
Mereka mengabarkan Injil di pinggir jalan, di lapangan terbuka dan di rumah-rumah. Mereka adalah pengkhotbah awam. John Wesley menetapkan tempat pekerjaan pengkhotbah awam dan membimbing serta mengawasinya. Sekali setahun mereka dikumpulkan dalam satu Konferensi.John Wesley selalu memersatukan tiga jenis kegiatan yaitu Evangelisasi, Organisasi/Administrasi dan Pendidikan. Tidak lama kemudian kemethodistan disebarluaskan dari Inggris ke Irlandia dan terus ke Amerika. Pada mulanya John Wesley tidak bermaksud untuk mendirikan Gereja baru, hanya membentuk kelompok-kelompok untuk mendalami ajaran kekristenan saja. Semua pengkhotbah tidak ditahbiskan dan semua anggota kelompok atau golongan itu masih tetap anggota dan menerima Sakramen-sakramen dari Gereja Anglikan.
Pada masa itu Pendeta Gereja Anglikan di Amerika masih sedikit, lagi pula tempatnya berjauhan. Dengan kemerdekaan Amerika, maka terpisahlah Gereja yang di Amerika dari Gereja yang di Inggris, sehingga terbentuklah Gereja Methodist Amerika yang otonom. Atas permintaan Gereja Methodist Amerika, John Wesley memohon kepada Bishop Gereja Anglikan untuk menahbiskan dua orang pengkhotbah dan mengirimkannya ke Amerika.Kemudian John Wesley menetapkan Dr. Thomas Coke yang sebelumnya Penatua di Gereja Anglikan menjadi Superintendent untuk mengorganisasikan Gereja Methodist di Amerika. Dr. Thomas Coke langsung menahbiskan Francis Asbury menjadi Superintendent yang kedua. Pada Konferensi yang diselenggarakan di Baltimore pada tanggal 24 Desemb 1784 ini, Dr. Thomas Coke bersama dengan 60 orang pengkhotbah lainnya membentuk Gereja Methodist Episkopal Amerika. Mereka menerima buku Acara Kebaktian Minggu da John Wesley yaitu sebuah Buku Doa dan Azas-azas Kepercayaan. Gereja Anglikan. Azas-azas Kepercayaan yang ada pada kita sekarang ini berasal dari buku tersebut dan memersatukan kita dengan kepercayaan Kristen mula-mula.
Dari dulu sampai sekarang Gereja Methodist memercayai bahwa Gereja Kristus sanggup mencari dan menyelamatkan yang hilang serta menyebarluaskan hidup yang dipenuhi Roh Suci dan memerbaharui hidup umat manusia dengan Injil Kristus. Satu-satunya alasan untuk menetapkan peraturan dan cara-cara Methodist ialah agar dapat melaksanakan perintah Kristus. Pada tahun 1905 Gereja Methodist yang berasal dari Amerika telah bekerja di Malaysia, Singapura dan meluaskan daerah kerjanya ke Indonesia khususnya di tiga pulau besar yang berjauhan letaknya yaitu:
1. Pulau Jawa dan sekitarnya.
2. Pulau Kalimantan dan sekitarnya, dan pekerjaan di kedua pulau ini langsung berhubungan dengan Konferensi Singapura.
3. Pulau Sumatera dan sekitarnya yang berhubungan dengan Konferensi Penang.
Pada mulanya pekerjaan di ketiga pulau ini merupakan daerah Pekabaran Injil dan belum berbentuk gereja menurut arti yang kita ketahui sekarang ini. Pada tahun 1908 pekerjaan di Pulau Jawa ditetapkan menjadi satu Distrik yang langsung berhubungan dengan Konferensi Tahunan di Singapura. Sedangkan pelayanan di Sumatera Utara baru pada tahun 1912 dan berhubungan dengan Penang.Sewaktu kunjungan Bishop J.R. Robinson yang pertama ke Sumatera Utara pada tahun 1913, diadakanlah Konferensi untuk memersatukan Gereja Methodist di Indonesia. Kesatuan kedua Distrik itu direalisasikan pada tahun 1917 dan berkedudukan di Jakarta. Sejak itu perkembangan Gereja Methodist sangat pesat, sehingga diusahakanlah agar Gereja Methodist di Indonesia itu menjadi Konferensi Mision tersendiri. Maksud itu tercapai pada tahun 1920 s/d 1940. Turut menghadiri Konferensi ini para Misionaris dan Pendeta-pendeta Indonesia. Guru Injil dan anggota-anggota Jemaat belum diikutsertakan untuk membicarakan peraturan gereja, walaupunjemaat itu telah dilayani seorang Elder atau Pendeta tua. Mereka hanya sebagai pelaksana apa yang telah diputuskan oleh Konferensi Mision itu sendiri.
Sesuai dengan Keputusan Netherlands Indies Mision Conference tahun 1927 di Jakarta dan General Conference tahun 1928 di Kansas City USA, maka pekerjaan Misi di Pulau Jawa dan Kalimantan ditutup. Semua Pendeta dan Guru Injil yang berasal dari Sumatera Utara dipindahkan kembali ke Sumatera Utara. Sedangkan pekerjaan Misi itu diserahkan kepada Mision Belanda. Dengan demikian nama Konferensi berubah menjadi Konferensi Mision Sumatera pada tanggal 25 Januari 1929 berkedudukan di Medan. Pada tahun 1940 Konferensi Mision Sumatera menjadi Konferensi Tahunan Sementara Sumatera. Tanggal 11 Januari 1963 Konferensi itu menjadi Konferensi Tahunan Sumatera. Maka sejak saat itu Konferensi ini berhak mengirimkan utusannya menghadiri Konferensi Agung (General Conference) di Amerika Serikat. Pada bulan April 1964 dikirimkan dua orang utusan menghadiri Konferensi Agung Gereja Methodist di Amerika Serikat yaitu: Pdt. Ragner Alm dan seorang awam yaitu Karel Hutapea untuk meminta izin (enabling act) supaya Gereja Methodist Sumatera Indonesia dapat mendirikan Gereja Methodist Indonesia yang otonom di Indonesia. Tanggal 9 Agustus 1964 pada Konferensi Tahunan Istimewa ditetapkan Gereja Methodist yang Otonom di Indonesia dengan nama: GEREJA METHODIST INDONESIA.
Pada Konferensi tersebut di atas diputuskan bahwa Pimpinan Pusat GMI yang otonom tidak dipimpin Bishop, tetapi oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang terdiri dari: Seorang Ketua dan para Distrik Superintendent menjadi anggota. Pdt. Wismar Panggabean terpilih sebagai ketua dan dilantik pada hari Minggu 9 Agustus 1964 di Gereja Methodist Indonesia Jalan Hang Tuah No. 8 Medan oleh Bishop H.B. Amstutz. Pada Konferensi Tahunan tanggal 7 s/d 12 Maret 1967 diputuskan perubahan susunan DPP tadi sebagai berikut: Ketua Pendeta Wismar Panggabean, Wakil Ketua Pendeta Johannes Edenata (Chong Han Giok) dan Sekretaris Jenderal Pendeta Hermanus Sitorus, S.Th.
Pada Konferensi Tahunan, tanggal 6 Januari 1968 ditetapkan pembentukan Konferensi Tahunan Sementara Sumatera Selatan dan Jawa. Sehingga sejak saat itu GMI terdiri dari dua Konferensi Tahunan yaitu, Konferensi Tahunan Sumatera Utara Aceh dan Konferensi Tahunan Sementara Sumatera Selatan Jawa Lampung.Pada tanggal 12 s/d 16 Februari 1969 diadakan Konferensi Agung GMI 1 di Medan yang dipimpin oleh Pendeta Wismar Panggabean. Pada Konferensi Agung tersebut diputuskan membentuk kepemimpinan Gereja Methodist Indonesia menjadi bentuk keepiskopalan dipimpin oleh seorang Bishop. Konferensi ini memilih Pendeta Johannes Gultom, M.Th menjadi Bishop dan ditahbiskan oleh Pendeta Wismar Panggabean, Pendeta Johannes Edenata, Pendeta Hermanus Sitorus, S.Th bersama-sama dengan Bishop Yap Kim Hao (Singapura) dan Bishop Otto Nall (Amerika Serikat) yang mewakili Dewan Bishop Gereja Methodist pada tanggal 16 Februari 1969 di GMI Jalan Hang Tuah No. 8 Medan.
Konferensi Agung GMI II diadakan pada tanggal 26 April s/d 6 Mei 1973 di Rumah Peribadatan GMI Parapat. Pada Konferensi tersebut ditetapkan dan disahkan buku Disiplin GMI yang pertama dalam Bahasa Indonesia. Pada Konferensi itu juga Bishop Johannes Gultom, M.Th dipilih kembali menjadi Pimpinan Pusat dan dikukuhkan dalam upacara kebaktian di GMI Jalan Nusantara No. 38 Medan. Selain Keputusan tersebut di atas, Konferensi juga memutuskan struktur baru, sehingga Bishop dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari dibantu oleh Departemen-departemen. Konferensi Agung GMI III tanggal 21 s/d 28 Agustus 1977 di Institut Alkitab Jalan K.L. Yos Sudarso No. 166A Medan, memilih Pendeta Hermanus Sitorus, S.Th menjadi Bishop. Upacara penahbisan dilakukan pada tanggal 28 Agustus 1977 oleh Bishop Johannes Gultom, M.Th, Bishop F. Wartz (Amerika Serikat), Bishop Granadosein (Philipina) dan Bishop C.N. Fang (Malaysia) di GMI Jalan Hang Tuah No. 8 Medan. Selain itu, diputuskan juga agar setiap jemaat setempat membuka pos-pos Pekabaran Injil. Konferensi Agung GMI IV tanggal 11 s/d 18 Oktober 1981 dilaksanakan di Institut Alkitab Jalan K.L. Yos Sudarso No. 166A Medan. Bishop Hermanus Sitorus, S.Th, BA terpilih kembali menjadi Pimpinan Pusat. Upacara pengukuhan dilaksanakan di GMI Jalan Hang Tuah No. 8 Medan oleh Bishop Dr. R. Naepil (Philipina) yang mewakili Dewan Bishop Gereja Methodist sedunia. Satu lagi keputusan penting yang patut dicatat dari Konferensi Agung IV itu ialah agar GMI dibadanhukumkan karena sebelumnya masih berbentuk Yayasan.
Konferensi Agung GMI V tanggal 10 s/d 20 Oktober 1985 dilaksanakan di Rumah Peribadatan Bukit Kebangkitan GMI Bangun Dolok Parapat. Konferensi tersebut memilih Bishop Johannes Gultom, M.Th menjadi Pimpinan Pusat dan ditahbiskan oleh Bishop Hermanus Sitorus, S, Th., Bishop John Wesley Hart (Amerika Serikat), Bishop C. N. Fang (Malaysia) dan Pdt. Ragnar Alm (Swedia) di Rumah Peribadatan GMI Bangun Dolok Parapat. Sehubungan dengan meninggalnya Bishop Johannes Gultom, M.Th pada tanggal 21 November 1987, di Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura, maka rapat Kabinet memutuskan Pdt. Johannes Edenata menjadi pejabat sementara Pimpinan Pusat GMI. Selanjutnya pada tanggal 8-10 Januari 1988 diadakan Konferensi Agung Istimewa di Institut Alkitab Jalan K.L Yos Sudarso No. 166A Medan. Konferensi tersebut memilih Pdt. H. Panggabean, MA menjadi Bishop untuk melanjutkan sisa periode 1987-1989. Penahbisan dilakukan oleh Pejabat Pimpinan Pusat GMI Pdt. Johannes Edenata, mantan Pimpinan Pusat GMI Bishop Hermanus Sitorus, S.Th, BA bersama Bishop Ho Chee Sin dari Gereja Methodist Singapore.
Tanggal 14-19 November 1989 berlangsung Konferensi Agung GMI VI di Parapat. Bishop H. Panggabean, MA kembali terpilih menjadi Pimpinan Pusat GMI periode 1989-1993. Pengudusan Bishop dilakukan oleh Bishop Dennis Dutton (Malaysia), Bishop Chang Kie Chun (Korea) dan Mantan Pimpinan Pusat GMI Bishop Hermanus Sitorus, S.Th, BA di Tebing Tinggi Deli. Pada tanggal 13-17 Oktober 1993 Konferensi Agung Gereja Methodist Indonesia VII di Wisma Kinasih Bogor, yang dipimpin oleh Bishop H. Panggabean, MA berhasil memilih Bishop Hermanus Sitorus, S.Th, BA sebagai Pimpinan Pusat GMI untuk periode 1993-1997 dan dikukuhkan oleh Mantan Pimpinan Pusat GMI Bishop H. Panggabean, MA, Bishop Chang Kie Cun dari Korea, Bishop Dennis Dutton dari Malaysia dan Bishop Caleb Wu dari Taiwan. Pada tanggal 14 Februari 1995 Bishop Hermanus Sitorus, S. Th.. BA meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura dan dimakamkan pada tanggal 17 Februari 1995 di Pekuburan Taman Eden, Tanjung Morawa - Medan.
Pada tanggal 7-9 April 1995, Konferensi Agung Istimewa GMI dilaksanakan di BLKM Ciloto Jawa Barat dan Pdt. Dr. Humala Doloksaribu, M.Th terpilih menjadi Pimpinan Pusat GMI untuk meneruskan sisa periode Bishop Hermanus Sitorus, S.Th., BA (1995-1997), yang ditahbiskan oleh Bishop Ho Chee Sin (Gereja Methodist Singapura) dan Bishop Dr. Dennis Dutton (Gereja Methodist Malaysia) pada tanggal 10 April 1995 di GMI Anugerah, Jalan Daan Mogot No. 100 Jakarta. Pada Konferensi Agung GMI VIII tanggal 7-12 Oktober 1997 di Rumah Peribadatan GMI Bangun Dolok Parapat, Bishop Dr. Humala Doloksaribu, M.Th terpilih menjadi Pimpinan Pusat Gereja Methodist Indonesia untuk periode 1997-2001, dan pengudusan (consecration) pada tanggal 12 Oktober 1997 di GMI Betlehem Jalan Sutomo No. 241 Pematang Siantar oleh Bishop Wong Khiam Thau dari Singapura, Bishop Philip Tseng dari Taiwan dan Bishop Chiao Sing Ching dari Malaysia. Pada Konferensi Agung GMI VIII ini juga Pdt. Bachtiar Kwee, M.Div terpilih menjadi Pimpinan Gereja Methodist Indonesia Wilayah II dan penahbisannya dilaksanakan pada tanggal 27 November 1997 di GMI Imanuel Jalan Dr. Latumenten Gang Rahayu No. 7 Jakarta, oleh Bishop Dr. Humala Doloksaribu, M.Th.
Pada tanggal 9-14 Oktober 2001, Konferensi Agung Gereja Methodist Indonesia IX di Hotel Patra Jasa, Parapat dengan tema "Kasih Memersatukan dan Menyempurnakan" (Kolose 3:14) dipimpin oleh Bishop Dr. Humala Doloksaribu, M.Th bersama Bishop Peter Chio Sing Cing dari Malaysia, Bishop Philip Tseng dari Taiwan, Bishop Young Kag Kwon dari Korea Selatan, dan Bishop Dr. Robert Solomon dari Singapura. Pada Konferensi ini diputuskan bahwa GMI memiliki 2 (dua) Bishop dengan perbaikan struktur tingkat Kantor Pusat dan Badan-badan Konferensi Tahunan diaktifkan. Di tingkat Nasiona! GMI dipimpin oleh Dewan Bishop dengan seorang Bishop sebagai Ketua yang menjabat secara bergilir. Pdt. Bachtiar Kwee, M. Div, terpilih menjadi Bishop dan memimpin Konferensi Tahunan GMI Wilayah II, berkantor di Jalan Prof. Dr. Latumenten No.109A, Angke Jakarta Barat, dan Pdt. R.P.M. Tambunan, S.Th terpilih menjadi Bishop dan memimpin Konferensi Tahunan GMI Wilayah I sekaligus sebagai Bishop Ketua untuk masa 2 (dua) tahun pertama, berkantor di Jalan R.A.Kartini No. 31 Medan. Karena Badan-badan Konferensi Tahunan yang aktif melaksanakan program ke Distrik dan ke jemaat, maka Kantor Pusat GMI hanya memfasilitasi Konferensi Tahunan GMI yang ada untuk mendaratkan program kerja bersama. Ketua Dewan Bishop dibantu seorang Sekretaris Kantor Pusat dan Pegawai yang berkantor di Medan.
Pada tanggal 13-16 Oktober 2005, Konferensi Agung Gereja Methodist Indonesia X di Hotel Bumi Makmur Indah, Lembang, Bandung dengan tema "Bersatu Dalam Roh Kudus Melayani Bangsa" yang dipimpin oleh Bishop Dr. Bachtiar Kwee, M.Div dan Bishop R.P.M. Tambunan, S.Th, Bishop Dr. Robert Solomon (Singapore), Bishop Enoch C.H. Kuey (Taiwan), Bishop Chang Dong Zu (Korea), dan Bishop Mawia (Myanmar). Pada Konferensi Agung X ini bersamaan dengan peringatan 100 Tahun (Centennial) pekerjaan Gereja Methodist di Indonesia.
Dalam Konferensi Agung tersebut Bishop Dr. Humala Doloksaribu, M.Th dan Pdt. Petrus Kohar, S.Th., MA terpilih menjadi Bishop Pimpinan GMI periode 2005-2009. Kebaktian Pengudusan dilaksanakan di GMI Imanuel, Jakarta Utara, hari Minggu tanggal 16 Oktober 2005. Pada saat yang sama Badan Episkopal mengumumkan Bishop Dr. H. Doloksaribu, M.Th menjadi Pimpinan GMI Wilayah I yang berkedudukan di Jl. Kartini No. 31 Medan, sekaligus menjadi Ketua Dewan Bishop untuk periode 2 (dua) tahun pertama. Sedangkan Bishop Petrus Kohar, S.Th., MA ditetapkan menjadi Pimpinan GMI Wilayah II yang berkedudukan di Jl. Prof. Dr. Latumenten No. 109A, Jakarta Barat.
Pada Minggu sore tanggal 16 Oktober 2005 diadakan perayaan 100 Tahun pekerjaan Methodist di Indonesia. Pada acara tersebut hadir para Misionaris Amerika Serikat yang pernah melayani di Indonesia antara lain: Rev. D.F. Walker dan istri, Rev. W.L. Harbert dan istri, Rev. F. Ingold dan istri, Rev. Don Turman dan istri, Misionaris Anne Howard dan suami dari Inggris serta Pdt. Piter Auh dan istri dari Korea Selatan.
Sehubungan meninggalnya Bishop Petrus Kohar, S.Th., MA (Pimpinan GMI Wilayah II) pada tanggal 2 Juni 2006 di Singapore General Hospital, maka pada tanggal 14 s/d 15 Nopember 2006, Konferensi Agung Istimewa diadakan di GMI Imanuel Jakarta dengan agenda tunggal pemilihan pengganti Bishop Petrus Kohar, S.Th., MA. Konferensi Agung Istimewa dipimpin oleh Bishop Dr. Humala Doloksaribu, M.Th. dan dihadiri oleh Bishop Dr. Robert Solomon dari Gereja Methodist Singapura dan Bishop Dr. Hwa Yung dari Gereja Methodist Malaysia. Pada Konferensi Agung Istimewa tersebut Pdt. Amat Tumino, S.Th., M.Min terpilih sebagai Bishop Pimpinan Konferensi Tahunan Wilayah II.
Pada tanggal 22 s/d 25 Oktober 2009, Konferensi Agung Gereja Methodist Indonesia XI di Golden View Hotel, Batam, Kepulauan Riau dengan tema "Tuhan memperlengkapi semua orang untuk melayani dan berbuat baik (2 Timotius 3: 16-17)" yang dipimpin oleh Bishop Amat Tumino, S.Th., M.Min (Ketua Dewan Bishop/Pimpinan GMI Wilayah II) dan Bishop Dr. Humala Doloksaribu, M.Th (Pimpinan GMI Wilayah I) dan dihadiri oleh Bishop Dr. Robert Solomon (Singapura). Pada Konferensi Agung tersebut terpilih kembali Bishop Amat Tumino, S.Th., M.Min sebagai salah satu Pimpinan GMI. Sesuai dengan kebutuhan struktur organisasi GMI yang mempunyai 2 (dua) Episkopal Area (Konferensi Tahunan Wilayah) maka Konferensi Agung GMI XI harus memilih 2 (dua) orang Bishop. Karena sampai akhir persidangan Konferensi Agung di Batam hanya 1 (satu) Bishop yang terpilih menjadi Pimpinan Wilayah, maka Konferensi Agung memutuskan melaksanakan Sidang Lanjutan Konferensi Agung XI paling lama 5 bulan setelah Konferensi Agung XI di Batam, dengan 2 (dua) nama calon.
Sidang Lanjutan Konferensi Agung XI Gereja Methodist Indonesia, di Grand Labersa Hotel, Pekan Baru, Riau, tanggal 26 Februari s/d 1 Maret 2010 dengan tema "Tuhan memperlengkapi semua orang untuk melayani dan berbuat baik (2 Timotius 3: 16-17)" dipimpin oleh Bishop Amat Tumino, S.Th., M.Min dan Bishop Dr. Hwa Yung (Malaysia). Dalam Sidang Lanjutan Konferensi Agung XI tersebut Pdt. Darwis Manurung, S.Th terpilih sebagai Bishop. Kebaktian Penutupan Konferensi Agung XI dan Penahbisan Bishop Darwis Manurung, S.Th diadakan pada hari Minggu, 1 Maret 2010 di GMI Sion, Pekan Baru. Pada saat yang sama Badan Episkopal GMI mengumumkan Bishop Darwis Manurung, S.Th sebagai Pimpinan GMI Wilayah I yang berkedudukan di Medan, sekaligus Ketua Dewan Bishop GMI periode Maret 2010 Oktober 2011, sedangkan Bishop Amat Tumino, S.Th., M.Min sebagai Pimpinan GMI Wilayah II yang berkedudukan di Jakarta, dan sekaligus Ketua Dewan Bishop GMI periode Oktober 2011 Oktober 2013.
Pada tanggal 22-27 Oktober 2013 Konferensi Agung Gereja Methodist Indonesia XII dengan tema "Bersatu Hati Sebagai Murid Yesus Untuk Mengubah Dunia (Yohanes 17:21), dilaksanakan di Grand Cempaka Hotel, dihadiri Bishop Wee Boon Hup dari Gereja Methodist Singapura. Dalam Konferensi ini terpilih Bishop Darwis Manurung, S.Th., M.Psi dan Bishop Amat Tumino, S.Th., M.Min untuk periode 2013-2017. Rapat Badan Episkopal GMI hari Jumat tanggal 25 Oktober 2013 memutuskan: Bishop Amat Tumino, S.Th., M.Min menjadi Pimpinan Konferensi Tahunan GMI Wilayah II yang berkedudukan di Jakarta dan menjadi Ketua Dewan Bishop GMI Periode Oktober 2013 Oktober 2015. Bishop Darwis Manurung, S.Th, M.Psi menjadi Pimpinan Konferensi Tahunan GMI Wilayah I yang berkedudukan di Medan dan menjadi Ketua Dewan Bishop GMI periode Oktober 2015 - Oktober 2017. Pada Konferensi Tahunan ke-68/XLIV/2014, dilakukan penerimaan para Pendeta dari Konferensi Tahunan Wilayah Sementara (KTWS) di GMI Wilayah I. Penerimaan ini merupakan pelaksanaan Keputusan KONAG GMI ke-12 No. 035/K.KONAG/GMI-XII/2013, lampiran 10:10 point 1, tentang Pendeta yang menamakan diri KTWS. Keputusan No. 061/Konta GMI Wil-1/ke-71/XLVI/2016. Sidang menerima hasil kelompok 1 Bidang Evangelisasi dan Pembinaan Bidang Perluasan Gereja (hasil Pokja 1 Bidang Evangelisasi dan Pembinaan Poin B. PEMEKARAN WILAYAH no.4). Pada Konta ini, Pdt. Paulus Subyanto, S.Th ditetapkan menjadi Kordinator gereja-gereja yang akan dimekarkan menjadi satu Konta baru.
Pada tanggal 18-22 Oktober 2017, dilaksanakan Konferensi Agung Gereja Methodist Indonesia XIII bertempat di Hotel Niagara Parapat. Sidang Konferensi Agung dipimpin oleh Dewan Bishop Gereja Methodist Indonesia, yaitu Bishop Darwis Manurung, S.Th., M.Psi dan Bishop Amat Tumino, S.Th., M.Min bersama dengan Bishop RPM. Tambunan S.Th dengan tema: "Hidup bersama dalam keteraturan" (Filipi 2:5), dengan sub tema: "Membangkitkan kesatuan dengan hidup bersama dalam keteraturan untuk melayani bangsa". Pada Konferensi Agung ke-XIII ini, dilakukan pemilihan Bishop GMI yang dipimpin oleh Bishop Chong Chin Chung dari Gereja Methodist Singapore dan Bishop Chien Chung Chen dari Gereja Methodist Taiwan. Dalam Konferensi ini terpilih menjadi Bishop GMI periode 2017-2021 yaitu Bishop Kristi Wilson Sinurat, S.Th., M.Pd dan Bishop Sabam Lumbantobing, S.Th., MA. Berdasarkan keputusan Rapat Badan Episkopal tanggal 22 Oktober 2017 Bishop Kristi Wilson Sinurat, S.Th., M.Pd menjadi Pimpinan GMI Wilayah I, sekaligus menjadi Ketua Dewan Bishop untuk masa dua tahun pertama (Oktober 2017-Oktober 2019). Sedangkan Bishop Sabam Lumbantobing, S.Th., MA ditetapkan menjadi Pimpinan GMI Wilayah II sekaligus sebagai Ketua Dewan Bishop Periode 2019-2021. Dalam Konferensi Agung juga diputuskan pemekaran Konta Pengembangan Sementara, yang meliputi Distrik 10, 11, 13 dan 14.
Pada tanggal 12-14 Januari 2018, dilaksanakan Konta Istimewa GMI Konta Pengembangan Sementara di Wings Hotel Deli Serdang, dipimpin oleh Bishop Kristi Wilson Sinurat, S.Th., M.Pd bersama Bishop Sabam Lumbantobing, S.Th., MA. Pdt. Tahir Wijaja, M.Th terpilih menjadi ketua Konta Pengembangan Sementara. Pada tanggal 22-24 Oktober 2021, dilaksanakan Konferensi Agung Gereja Methodist Indonesia XIV secara virtual dengan pusat virtual di GMI Wesley Jakarta, Jln. Pluit Raya, No. 18-19, Pluit Jakarta Utara. Peserta Konferensi Agung GMI ke XIV berada di 11 (sebelas) klaster antara lain: Klaster Pusat di GMI Wesley Jakarta, Klaster 1 di Hotel Emerald Garden Medan, Klaster 2 di Hotel Radisson Medan, Klaster 3 di Hotel Danau Toba Medan, Klaster 4 GMI Efrata Palembang, Klaster 5 GMI Immanuel Bandar Lampung, Klaster 6 GMI Imanuel Jakarta, Klaster 7 GMI Salatiga, Klaster 8 GMI Muara Enim, Klaster 9 GMI Anugerah Batam, dan Klaster 10 GMI Hosana Lubuk Pakam.
Sidang Konferensi Agung dipimpin oleh Dewan Bishop Gereja Methodist Indonesia; Bishop Kristi Wilson Sinurat, S.Th., M.Pd, Bishop Sabam Lumbantobing, S.Th., MA dan Bishop RPM Tambunan, S.Th dengan tema: Bersatu Membangun Tubuh Kristus Untuk Melayani Bangsa (Yohanes 17:21-22) dan sub tema: GMI Bersatu Dalam Tuhan Untuk Menjadi Berkat dan Kesaksian Bagi Bangsa. Pada Konferensi Agung GMI XIV diputuskan bahwa Konferensi Tahunan Pengembangan Sementara menjadi wilayah penuh dengan nama Gereja Methodist Indonesia Konferensi Tahunan Wilayah Pengembangan. Pada sidang Konferensi Agung XIV ini, dilakukan pemilihan Bishop untuk 3 (tiga) Wilayah, dan yang memimpin sidang adalah Bishop RPM Tambunan, S.Th. Bishop yang terpilih menjadi Bishop Gereja Methodist Indonesia periode 2021-2025 adalah Bishop Kristi Wilson Sinurat, S.Th., M.Pd., Bishop Sabam Lumbantobing, S.Th., MA dan Bishop David Utawi, M.Th.
Berdasarkan keputusan rapat Badan Episkopal tanggal 24 Oktober 2021, ditetapkan bahwa Bishop Kristi Wilson Sinurat, S.Th., M.Pd menjadi Pimpinan GMI Konferensi Tahunan Wilayah I dan sekaligus menjadi Ketua Dewan Bishop periode 2021-2025. Bishop Sabam Lumban Tobing, S.Th., MA ditetapkan menjadi Pimpinan GMI Konferensi Tahunan Wilayah II dan Bishop David Utawi, M.Th ditetapkan menjadi Pimpinan GMI Konferensi Tahunan Wilayah Pengembangan.Pada tanggal 13-14 Oktober 2023 dilaksanakan Konferensi Indonesia untuk pembahasan Displin GMI tahun 2021 secara Agung Istimewa (konferensi lanjutan) Gereja Methodist semi virtual, dengan pusat virtual di GMI Wesley Jakarta, Jln. Pluit Raya, No.18-19, Pluit Jakarta Utara. Peserta Konferensi Agung GMI XIV berada di 8 (delapan) klaster antara lain: Klaster pusat di GMI Wesley Jakarta, Klaster Wilayah I di Hotel Le Polonia Medan, Klaster GMI Betlehem Palembang, Klaster GMI Immanuel Bandar Lampung, Klaster GMI Imanuel Jakarta, Klaster GMI Anugerah Lubuk Linggau, Klaster GMI Anugerah Batam dan Klaster Wilayah Konta Pengembangan di GMI Hosana Lubuk Pakam. Konferensi Agung Istimewa (konferensi lanjutan) ini dipimpin oleh Bishop Kristi Wilson Sinurat, S.Th., M.Pd, Bishop Sabam Lumbantobing, S.Th., MA, Bishop David Wu, M.Th dan Bishop RPM Tambunan, S.Th dengan tema: Bersatu Membangun Tubuh Kristus Untuk Melayani Bangsa (Yohanes 17:21-22) dan sub tema: GMI Bersatu Dalam Tuhan Untuk Menjadi Berkat dan Kesaksian Bagi Bangsa.